Tujuan Pembelajaran 2.1.A: Jelaskan hubungan antara jenis ikatan dengan sifat-sifat unsur yang terlibat dalam ikatan tersebut.
- 2.1.A.1 Nilai elektronegativitas untuk unsur-unsur perwakilan meningkat dari kiri ke kanan melintasi suatu periode dan menurun dari atas ke bawah dalam suatu golongan. Tren-tren ini dapat dipahami secara kualitatif melalui struktur elektronik atom, model kulit, dan hukum Coulomb.
- 2.1.A.2 Elektron valensi yang dibagi antara atom-atom dengan elektronegativitas yang serupa membentuk ikatan kovalen nonpolar. Misalnya, ikatan antara karbon dan hidrogen efektifnya nonpolar meskipun karbon sedikit lebih elektronegatif daripada hidrogen.
- 2.1.A.3 Elektron valensi yang dibagi antara atom-atom dengan elektronegativitas yang berbeda membentuk ikatan kovalen polar.
- i. Atom dengan elektronegativitas yang lebih tinggi akan mengembangkan muatan parsial negatif relatif terhadap atom lainnya dalam ikatan tersebut.
- ii. Dalam ikatan tunggal, perbedaan elektronegativitas yang lebih besar menghasilkan dipol ikatan yang lebih besar.
- iii. Semua ikatan polar memiliki beberapa karakteristik ionik, dan perbedaan antara ikatan ionik dan kovalen tidak tegas melainkan sebuah kontinum.
- 2.1.A.4 Perbedaan elektronegativitas bukan satu-satunya faktor dalam menentukan apakah sebuah ikatan harus ditetapkan sebagai ionik atau kovalen. Umumnya, ikatan antara logam dan nonlogam bersifat ionik, dan ikatan antara dua nonlogam bersifat kovalen. Pemeriksaan sifat-sifat suatu senyawa adalah cara terbaik untuk mengkarakterisasi jenis ikatan.
- 2.1.A.5 Dalam padatan logam, elektron valensi dari atom-atom logam dianggap terdelokalisasi dan tidak terkait dengan atom individu mana pun.




